Cerpen: Menunggu

Cerpen: Menunggu

Odi Shalahuddin

MENUNGGU
Cerpen Odi Shalahuddin

Malam. Tiada lampu jalanan. Purnama terganggu cuaca. Awan hitam bergerak, berputar, tiada berarah. Dimainkan angin langit yang gundah barangkali. Sesekali, bulan mengintip di selanya. Tertelan kembali oleh awan-awan itu.

Suara gemericik air yang mengalir tenang. Terdengar, tapi tak bisa terpandang mata. Di atas jembatan, di tengah, aku bersandar pada pagar besinya. Sesekali menoleh ke arah kiri dan kanan. Kadang berbalik, memandang sungai di bawahnya berusaha menembus kegelapan agar bisa menyaksikan ruang-ruang bawah. Air. Batu kali. Berbenturan. Barangkali sampah-sampah menyatu di dalamnya.

Saya kira waktu sudah lewat dari sebelas malam. Pastilah ia tidak akan datang. Tak mungkin. Ya, tak mungkin. Sejak pukul sembilan, sesuai janji, tiada satu orangpun menyebrangi jembatan ini. Ya, sejak tadi aku berdiri sendiri. Bergulat dengan sunyi. Tak satupun orang lewat. Jalan kaki ataupun kendaraan.

”Betapa bodohnya aku,” mengeluh ketika teringat, tiada alat komunikasi di saku. Bukan terlupa. Begitulah perjanjiannya. Tanpa bertanya ataupun protes…

Lihat pos aslinya 505 kata lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s