Menjadi Seperti Anjing, Mencuri di Malam Hari

Menjaga Makam dari orang yang meninggal pada malam Selasa Kliwon di Kendal (Sumber Kompas)

Lanjutan dari tulisan Sebelumnya: Malam Selasa Kliwon

Ada beragam versi, tapi persamaannya, sang pencuri melakukannya dengan cara seperti anjing. Ia harus memasuki areal pemakaman dengan cara seperti anjing. Menggali kuburan dengan kedua tangannya dan saat mencuri bagian yang dibutuhkan, harus menggunakan mulutnya. Ada yang mencuri tali pocong, kain kafan, atau kedua telinga sang mayat.

Pencuri adalah penganut ilmu hitam. Kepentingannya, agar menambah kesaktian atau sebagai syarat pesugihan untuk mendapatkan kekayaan secara cepat dengan jalan tidak wajar.

Kuntowijoyo, pada cerpennya ”Anjing-anjing Menyerbu Kuburan” yang menjadi cerpen terbaik Kompas tahun 1997, menuliskan:

…Ia mendekati kuburan baru. Beruntunglah dia, tanah itu berpasir. Dia harus mengeduk kuburan itu dengan tangan telanjang, mengeluarkannya dan menggigit telinga kanan-kiri dengan giginya, dan membawanya lari dengan mulutnya ke rumah guru. Dia mencabut patok-patok, mulai menggali timbunan itu…

Sebuah kisah, yang dinyatakan sebagai kisah nyata menggambarkan bagaimana proses mencuri kain mori atau kain kafan dari seseorang yang telah meninggal pada Malam Selasa Kliwon (Sumber: DI SINI).

… Cerita Parman bisa dimaklumi, disamping menahan takut, dia juga harus menahan pukulan dari si mayat tersebut. Hal ini berlangsung cukup lama, mengingat dalam penggalian serta cara mengambil mori itu hanya menggunakan tangan dan mulut. Karena menurut kepercayaan tak diperbolehkan menggunakan peralatan. Jika telah mendapat kain mori itu, keberhasilan hidup dimasa depan boleh dikatakan sudah di depan mata. Karena menurut Parman, kita bisa meminta apa saja nantinya pada si mayat yang telah kita ambil kain morinya itu. Bagaimana cara mengguankan kain mori yang telah diambilnya dari kuburan, sebagai sarana ritual pesugihan itu? …  

Sebenarnya kisah-kisah semacam itu sudah lama saya tidak pernah mendengarnya. Kebenaran-nya pun, entahlah. Tergantung pada diri kita apakah mempercayainya atau tidak.

Kisah semacam ini bisa jadi menjadi bahan tertawaan bagi generasi sekarang. Generasi modern yang hidup di era digital. Generasi yang mampu menjangkau berbagai pengetahuan dan informasi dari segala penjuru walau hanya duduk di depan komputer atau alat komunikasi lainnya.

Namun, pada proses pencarian berita tentang seseorang yang meninggal pada hari Selasa Kliwon, dalam tiga tahun terakhir, kasus pembongkaran dan pencurian pada makam masih terjadi. Sebagai gambaran, beberapa contoh kasus yakni: Agustus 2010 di Banyuwangi, Sapani (70 tahun) yang baru dimakamkan satu hari, kuburannya telah dibongkar dan tiga tali pocongnya sudah menghilang (lihat kompas.com dan detik.com).  Selang dua bulan, di Blitar, pada November 2010, pembongkaran mayat seorang polisi berhasil digagalkan. “Makam kakak saya ditunggui tujuh hari tujuh malam nonstop, dan dilanjutkan selama 41 hari dijaga pada malam hari. Namun, di hari ke-36 ternyata ada pencuri yang berusaha mengambil kain kafan pembungkus jenazah setelah penunggu datang terlambat,” kata Roni, adik dari sang polisi tersebut menjelaskan. (Surya.co.id)

Penjagaan ketat terhadap makam bagi orang yang meninggal pada (malam) selasa kliwon juga masih dilakukan di berbagai tempat. Seperti dilakukan masyarakat Kendal pada Maret 2011 (lihat Kompas.com), atau pada Maret 2012, makam mantan Bupati Gunung Kidul, dijaga ketat selama 24 jam selama 40 hari.  (Sumber:  HarianJogja)

Pertanyaan yang mengemuka mengapa Malam Selasa Kliwon (dan juga malam Jum’at Kliwon) dikeramatkan? Seperti kita ketahui, pada malam tersebutlah kegiatan-kegiatan ritual dilakukan. Pada makam-makam yang dianggap suci atau keramat, hanya bisa diziarahi pada malam Selasa atau Jum’at kliwon.

Bahan-bahan yang diperoleh dari Mbah Google untuk menjelaskan hal tersebut secara memadai masih sulit ditemukan. Kebetulan ada satu tulisan yang saya kira bisa menjelaskan (walau mungkin bagi kita masih membingungkan) :

Sedikit ada kerancuan soal hari pasaran Kliwon itu sendiri. Ada yang beranggapan hari yang dianggap sakral adalah Selasa Kliwon. Ini hari dimana moyang Jawa dulu menaruh sesaji di beberapa tempat yang dipercaya menjadi area berkumpulnya spirit arwah leluhur, energi alam, cinta dan kecantikan – makanya juga disebut sebagai hari Anggara kasih – hari  dimana amat bagus bercinta dan berkasih mesra. Hari yg dikuasai oleh dewi-dewi dan ratu alam. Itu sebabnya malam Selasa Kliwon dianggap dikuasai oleh ruh jahat berkelamin perempuan. Dari Nyi Roro kidul, Nyi Blorong, Kuntilanak, dan jenis hantu “betina” lainnya. Masyarakat Desa Tegalwaton Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, masih banyak yang mengakui keberadaan Cerita Rakyat Sendang Senjaya lengkap dengan peninggalannya yang berupa sendang. Tradisi Kungkum yang selalu ini dilakukan masyarakat pada hari malam Selasa Kliwon dan malam Jum’at Kliwon sebagai wujud bentuk permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sumber: DI SINI).

Lantas bagaimana kamu mensikapi kisah-kisah di atas? Bebas-bebas sajalah.

Yogyakarta, 12 Juni 2012

(Odi Shalahuddin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s