Ketika Malam Para Anak Jalanan Berburu Ruang ?

Setengah tiga pagi. Mata belum mengantuk. Ketika di kepala bertanya tentang malam, berkelebatan beragam pengalaman. Silih berganti, bagaikan potongan-potongan film dalam iklan. Lalu pada akhirnya tertuju pada kenangan, tentang malam-malam bersama anak jalanan.

Pada masa sekarang, tampaknya tidak banyak lagi anak-anak jalanan yang hidup di jalanan. Tidak seperti pada masa-masa awal keberadaannya. Setidaknya hingga akhir tahun 1990-an. Kita bisa dengan mudah menjumpai berbagai ruang publik, yang digunakan sebagai tempat peristirahan. Hidup beratap langit beralas bumi, tampaknya memang terjalani.

Ya, pada masa-masa itu, anak-anak jalanan adalah anak-anak yang dengan berbagai alasan, keluar dari rumah, meninggalkan lingkungannya, memasuki kota-kota, tanpa sanak saudara, atau bilapun ada tak terpikirkan untuk menjumpai, bahkan bisa jadi sesuatu yang harus dihindari.

Anak-anak itu, memasuki dunia baru. Dunia yang sungguh tidak layak bagi anak-anak. Dunia yang keras. Dibayang-bayangi berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi. Bagaikan menjelajahi hutan beton, berlaku hukum rimba. Siapa kuat, dia akan jadi pemenangnya. Belum lagi berhadapan dengan orang-orang ”normal” yang menempatkan posisi anak-anak itu tak ubahnya monster.

Untuk mempertahankan hidupnya, mereka melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Kegiatan yang dominan adalah sebagai penyemir sepatu dan pengamen. Pengemis? Ah, diantara mereka sendiri juga tak suka. ”Itu bukan kerja!” kata mereka. Dan tak sungkan mengolok anak-anak yang mencoba untuk mengemis.

Sebagai upaya mempertahankan hidup. Uang yang dicari adalah untuk makan-minum kala lapar. Selebihnya bisa berleha-leha. Menunggu saat makan berikutnya. Tidak ada kamus kata menabung. Di mana? Tersimpan dalam celana saja, bisa menghilang kala tidur.

Nah, soal tidur, mereka bisa tidur dimana saja. Di taman, di emperan toko, di pos-pos penjagaan polisi, los-los pasar, gedung-gedung kosong, terminal, gerbong kereta, di bawah jembatan, dan segenap ruang yang bisa digunakan. Mereka juga bisa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dimana mereka suka.

Selanjutnya, mulai berkelompok. Menyatukan diri, membangun kekuatan, untuk menghadapi berbagai ancaman. Kemudian bisa berpotensi pula menjadi kelompok untuk menaklukkan kelompok-kelompok lain, menguasai wilayah-wilayah, termasuk wilayah untuk tidur.

Mensikapi situasi seperti itu, maka para pekerja/organisasi sosial di manapun berada yang bekerja untuk anak jalanan, selalu menggunakan pendekatan penyediaan open house ataupun shelter. Menjadi rumah singgah dan tempat tinggal sementar bagi anak-anak jalanan, sebelum mereka bisa dipertemukan kembali dengan orangtua/keluarganya.

Namun, seperti dikatakan di awal, situasi telah berubah. Anak-anak jalanan memang sudah sulit ditemui di ruang-ruang publik kala malam. Bilapun ada, biasanya malah bersama keluarga mereka. Homeless. Sebagian besar hanya melakukan kegiatan di jalanan guna mendapatkan uang yang bukan sebagai pilihan utama untuk mempertahankan hidup, namun bisa menjadi kontribusi anak bagi pendapatan keluarga. Mereka berasal dari kampung-kampung di kota itu sendiri. Masih tinggal bersama orangtua/keluarga. Saat mencari uang kadang juga ditunggui atau lebih tepatnya di bawah pengawasan keluarga mereka.

Perubahan situasi itu pula yang tampaknya menyebabkan anak-anak jalanan sulit untuk diajak berkegiatan oleh para pekerja sosial. Waktu adalah uang, seperti berlaku. Cilakanya, bila ada pekerja sosial atau organisasi yang memberikan uang pengganti agar mereka bisa mengikuti kegiatan. Bukankah ini sama saja membeli kegiatan? Lantas apa guna berkegiatan bersama anak jalanan?

Wah, kok yang mau ditulis, malah melebar. Judul dan isi menjadi tidak sesuai. Tapi, tak mengapa ya… namanya saja celoteh malam. Jadi bebas merdeka… Ha.h.ah.a.ha.h.a.

Selamat malam, tetap semangatlah para sahabat sekalian. Segar jiwa-raga saat terbangun pada pagi hari untuk menjalani hari-hari, dengan harapan menjadi lebih berarti.

Yogyakarta, 11 Juni 2012

Iklan

3 thoughts on “Ketika Malam Para Anak Jalanan Berburu Ruang ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s