Menyusuri Jalan-Jalan Semarang Saat Malam

Selepas pertemuan dengan kawan-kawan di Yayasan Setara pada Kamis lalu (7/6),  malamnya dilanjutkan berkeliling ke beberapa tempat. Wak Yok, yang semula mengajak, justru tidak bisa dihubungi di kedua nomor Hapenya. Sama sekali tidak ada keterangan darinya, pun hingga esok juga hingga kini. Atau karena beberapa hari sakit, kondisi tubuhnya belum pulih benar sehingga tidak memungkinkan dia keluar malam? Entahlah.

Aku, Fuad, Ika dan Hening, berangkat dari kantor Yayasan Setara sekitar pukul 09.30, setelah mengontak Yuli “BDN” agar bisa bertemu di shelter pusat warung makanan di depan E-plaza. Perut lapar, jadi memang harus diisi dulu.

Simpang Lima memang telah berubah. Lapangan Pancasila tertata rapi, dengan rimbun pepohonan di pinggirannya. Lampu-lampu gemerlap. Tidak ada lagi warung teh poci yang sempat menjamur di seputaran lapangan terutama di bagian Barat dan Timur dan sepanjang jalan Pandanaran. Sebagian kecil, bercampur dengan warung-warung nasi di bagian Selatan dan Timur.

Warung teh poci, menjadi fenomenal, lantaran lekat dengan kehadiran para perempuan yang kemudian dikenal dengan istilah “Ciblek”, yang diambil dari nama sebuah burung kecil yang suka berkicau, dan juga merupakan kependekan dari chilik-chilik betah melek. Di seputaran Simpang Lima saja jumlahnya mencapai lebih dari seratus.

Ya, memang telah berubah. Itu adalah gambaran situasi pada akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Kini, Warung-warung makan  lebih tertata di seputaran Simpang Lima dengan pembuatan shelter-shelter, kecuali di bagian utara yang menjadi bagian depan sebuah hotel. Hal mana, ini juga menjadi wajah di kawasan Taman KB, belakang gedung DPRD Propinsi Jateng.

Menunggu beberapa saat, BDN datang. Selesai menyantap makan malam, atas kebaikan Fuad Adi untuk mengantarkan keliling, kami mulai menyusuri jalan-jalan di Semarang. Pertama kami menuju ke arah Timur, menyebrangi sungai lalu melaju ke utara. Deretan rumah-rumah sepanjang jalan di pinggiran kali. Orang-orang berkelompok di depan tempat karaoke yang baru saja menjamur, menambah riuh kawasan ini, yang sebelumnya hanya terdapat panti-panti pijat dan dikenal juga sebagai tempat praktik prostitusi. Tanggul Indah, demikian nama yang dikenal.

Sampai sebuah pertigaan, kami berbelok ke kiri, terus melaju, hingga tiba di Jalan Mataram. Kami berbelok kanan menuju Pasar Johar, melewati gedung-gedung tua, dan sampailah di kawasan Mberok. Terdengar alunan musik  dangdut. Para perempuan berdiri di pinggiran jalan dan para lelaki bermotor tampak ada di beberapa kerumunan. Memelankan laju kendaraan, beberapa perempuan sempat melambaikan tangan. Tapi segera mengurungkan niat memanggil.

“Wah, salah, harusnya Ika tidak didepan. Coba kalau lelaki yang di depan semua, pasti akan dicegat,” kata BDN.

Kami berbelok ke kiri, menuju jalan pemuda, melewati jembatan Mberok. Banyak perempuan berada di pinggiran jalan, melambai-lambaikan tangan memanggil para pengendara yang lewat. “Kalau malam minggu, bisa sampai kantor pos sana, mereka berdiri mencari pengunjung kafe.

Ya, di kawasan ini memang menjamur kafe-kafe sederhana. Awalnya yang pernah kulewati beberapa waktu lalu, hanya ada dua di selatan kali dan dua di utara kali. Tapi kini makin bertambah jumlahnya. Para perempuan juga sudah menghambur ke pinggiran jalan mencari pengunjung. Kami berbelok ke kiri, menyusuri pasar Johar, lalu ke kanan hingga tiba di perempatan Metro, dan melaju lurus, lalu berbelok ke kiri, ke arah stasiun Poncol.

”Di sini berbeda, karaokenya. Di sini warung-warung tenda, tidak permanen,” jelas BDN.

Di Sepanjang jalan ini, juga dikenal sebagai kawasan mangkal para PSK. Ada yang berbeda dari masa lalu, sekarang banyak PSK yang menunggu di atas kendaraan roda dua. Modus Ini juga bisa ditemukan di sekitar jalan Pandanaran dan seputaran Simpang Lima. Modus yang berkembang pada saat satuan polisi pamong praja intens melakukan razia ketika proses penataan kawasan Simpang Lima.

”Biasanya ada ”Nn” mangkal di sekitar sini,” BDN lagi, menjelang stasiun Poncol. Melewati stasiun, kami berbalik arah lagi menuju utara. Selepas stasiun Poncol terlihat ”Nn”.  ”Nah, itu dia,” sayangnya tak sempat menyapa, dan mungkin memang tak perlu untuk menyapanya malam ini.

Nn, kukira sekarang umurnya sekitar 20-25-an. Kami telah mengenalnya sejak ia masih anak-anak. Ketika menjadi anak jalanan, lalu terjerumus ke prostitusi pada awal 2000-an, berganti-ganti tempat di warung-warung teh poci di seputar Simpang Lima dan Jln. Pandanaran. Beberapa kawannya masa itu, kami kenal baik juga.

”Mau coba ke pintu empat pelabuhan?” tawar BDN. Kami setuju saja. Meluncur melewati jembatan Mberok, ke arah kiri, ke kanan melewati stasiun Tawang, dan meluncur terus. Jalanan buruk. Rob juga terlihat. Sampai di depan pintu gerbang pelabuhan, di bawah jembatan arteri, kami berbelok ke kiri. Tempat yang terlihat sepi dan menegangkan. Pada putaran arah, harusnya ke kanan. Tapi genangan membuat kami urung ke sana. ”Nah, di situ banyak tempat karaoke,” tunjuk BDN ke arah bangunan-bangunan di bawah jembatan arteri yang terlihat terang.

Tak terasa berputar-putar, hari-pun telah berganti. Kami meluncur ke Simpang Lima mengantarkan BDN yang memarkir motornya di sana, lalu diantar ke Setara. Sebentar di sana, saya diantar ke daerah Metro. Menunggu angkutan untuk ke Sukun, tempat menunggu bus dan angkutan lain ke Yogya. Sayang Hujan sangat deras, sehingga bertahan lebih dari satu jam di sebuah warung angkringan.. Setelah reda, baru mencari angkot ke Sukun. Di sana terlihat sebuah mobil omprengan ke Yogya. Jam setengah dua. Masuk mobil, tidur, dan menjelang empat pagi, mobil baru bergerak menuju Yogya. Itupun harus mangkal lama juga di Bawen.

Pikiran masih terbayang dengan menjamurnya tempat-tempat karaoke yang diindikasikan merekrut anak-anak sebagai Pemandu Karaoke-nya (PK). Anak-anak pasti rentan pula untuk dijerumuskan ke prostitusi. Di luar daerah yang sempat terjelajahi malam itu, masih banyak penggal jalan yang marak juga dengan karaoke. Ah…. berharap ada kesempatan untuk menyusuri kembali dengan waktu yang lebih panjang agar bisa mengamati lebih jauh dan berbincang tentang situasinya.

Yogyakarta, 10 Juni 2012

______________________________

Lagu dari Setara Merdeka tentang Simpang Lima:

5 gagasan untuk “Menyusuri Jalan-Jalan Semarang Saat Malam

  1. Aku tidak Sependapat dengan Anda karena bagi saya PK di Blerok buakanlah Prostitusi karena mereka hanya menghibur memandu karaoke bukan melakukn Prostitusi, jangan asumsikan PK sebagai prostitusi di Blerok,,,mereka bekerja sejatinya baik walaupun mereka larut dalam kesenagan namun mereka tidak Zina

    • Terima kasih responnya. Tapi mohon dicermati lagi, yang saya katakan adalah di daerah Poncol. Saya kutipkan lagi kalimat yang saya tulis, Bung Heiru….

      __________

      Ya, di kawasan ini memang menjamur kafe-kafe sederhana. Awalnya yang pernah kulewati beberapa waktu lalu, hanya ada dua di selatan kali dan dua di utara kali. Tapi kini makin bertambah jumlahnya. Para perempuan juga sudah menghambur ke pinggiran jalan mencari pengunjung. Kami berbelok ke kiri, menyusuri pasar Johar, lalu ke kanan hingga tiba di perempatan Metro, dan melaju lurus, lalu berbelok ke kiri, ke arah stasiun Poncol.

      ”Di sini berbeda, karaokenya. Di sini warung-warung tenda, tidak permanen,” jelas BDN.

      Di Sepanjang jalan ini, juga dikenal sebagai kawasan mangkal para PSK. Ada yang berbeda dari masa lalu, sekarang banyak PSK yang menunggu di atas kendaraan roda dua. Modus Ini juga bisa ditemukan di sekitar jalan Pandanaran dan seputaran Simpang Lima. Modus yang berkembang pada saat satuan polisi pamong praja intens melakukan razia ketika proses penataan kawasan Simpang Lima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s